Kamis, 25 Desember 2014

Ray dan Raya



Saat getaran itu tak lagi ada. Saat mataku dan matamu tidak lagi bisa saling bercakap. Saat melihatmu dan bahagia tak kunjung hadir. Apa yang harus aku lakukan? 

Aku telah kehilangan cinta. Cinta yang kutujukan hanya untukmu. Seperti  sumpah kita dulu. Kala kita benar-benar takluk pada rasa. Kala dekapan asmara merangkul hati kita. Kala mata menjadi buta kemilau cinta. Kini apa yang harus aku lakukan? 

Percakapan manis itu selalu kudengung-dengungkan di kepalaku. Sekedar memancing rasa yang kuanggap hilang untuk kembali lagi.
“Aku mencintaimu,” kataku pada Raya setelah membiarkan waktu berlalu dalam diam.
“Ini yang pertama untukku.” 
“Aku bersumpah hanya kamu yang ada di sini, sudikah Raya menempatinya? Hanya kamu,” lanjutku sambil memegang dada. Rona merah pipi gadis itu berbarengan dengan anggukan kepala yang pasti.

Sumpah setia telah kugulirkan dengan lantang. Apakah harus aku langgar? Meninggalkanmu dalam kesendirian. Ataukah aku tetap berlakon pada sumpah itu? Menjalankan peran pada cinta yang kehilangan ruhnya. Itukah yang harus aku lakukan? Berpura-pura.
 
Aku tidak selingkuh. Sumpah. Tempatmu yang dulu di hati masih kosong. Sama seperti sebelum kubuatkan tahta untukmu di sana. Hanya saja, aku tidak lagi merasakan apapun saat meggemgam erat jemarimu. Bahkan desiran bahagia saat hanya duduk di sisimu tidak lagi ada.
***
Aku merasakan hatimu menyimpan beban. Pastinya apa aku tidak tahu. Tapi aku terlalu mengenalmu. Tanpa kau ucap, aku tahu. Sedikit guratan berbeda dari senyummu mewakili rasamu. 

Hampa. Kebersamaan kita tak lagi sama. Buncahan cinta di hatiku tidak lagi meraskan cinta itu masih di hatimu. Kebaikan, perhatian dan rasa sayang yang kau tujukan padaku hanya kepura-puraan. Senyum manismu terasa sangat hambar. Aku tahu  cintamu tinggallah figura tanpa lukisan.
“Ray,” panggilku membangunkan Ray dari lamunannya.
Ray menoleh. Mata mereka bersitatap.
“Saat cinta tak lagi punya ruh, apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.

Ray merasa ditikam bilah tajam tepat di hatinya. Perih. Tak ada jawaban. Hanya kepalanya yang makin tertunduk lebih dalam.

Sepi. Ray dan Raya sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
“Cinta adalah kerelaan melepaskan kekasihmu saat dia tak lagi nyaman duduk di sampingmu,” ujar Raya.
“Singgasana hati Ray telah kosong, aku telah terdepak dari sana.”
“Raya, sumpah, aku tidak pernah membawa perempuan lain disini,” kata Ray.
“Aku tahu,” balasku dengan senyum kegetiran.
“Kita bukan pelakon film profesional. Melanjutkan kisah sesuai skrip keinginan kita hanya akan menyayat hati. Mencipta luka dalam.” 

Bendungan itu telah runtuh. Deraian air mata mengaliri pipiku.
“Pergilah, dan jangan berbalik. Supaya aku yakin kamu memang meninggalkan aku,” pintaku pada Ray dengan isak tertahan.

Tubuh tegap Ray berlalu. Langkah gontai dan tundukan kepala menemaninya pergi. Beban berat benar-benar terpancang kuat dipundaknya. Sesalan menggelayuti hatinya. Menyakiti wanita cantik dan baik seperti Raya. Namun apalah daya cinta telah kehilangan ruhnya. Ah tidak. Itu bukan cinta. Itu hanyalah obsesi yang lahir dari simpati berlebih pada gadis yang didamba semua lelaki. (Muj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar