Kamis, 25 Desember 2014

Hati untuk Edo



Edo, Edo dan Edo lagi. Cowok rapi, supel, cakep dan pintar. Sempurna. Cukup satu kata itu untuk menggambarkannya. Sejak bayi dia mulai ada didekatku. Ahhh tidak. 8 bulan dalam kandungan dia mulai mendekatiku. Tepatnya Papa dan Mamanya membeli rumah disamping rumahku. Tak disangka dialah lelakiku kemudian hari.
***
Taman bermain kompleks perumahan Villa Taman Bunga selalu ramai setiap minggu pagi. Anak-anak bermain. Orang dewasa berlari. Sekedar berjalan mengelilingi taman pun banyak. 
Keriuhan pagi pun semakin menjadi. Seorang ibu hamil tiba-tiba mengalami kontraksi hebat. Suaminya yang panik berteriak-teriak minta tolong. Orang-orang pun berdatangan. Ternyata tidak hanya seorang. 5 meter dari mereka, seorang laki-laki pun berteriak minta tolong. 
“Tolong panggilkan taksi. Isteriku mau melahirkan.”  
“Tolong, ketuban isteriku sudah pecah.” 
Orang-orang menjadi panik. Beberapa bapak-bapak berlari ke jalan raya mencari taksi. Kelompok ibu-ibu tak kalah sibuk. Seakan dikomando, ibu-ibu itu membagi diri menolong dua ibu yang akan melahirkan. 
Kedua ibu itu dibawa ke rumah bersalin terdekat. Hanya butuh 15 menit, tangisan bayi nyaring terdengar diluar pintu kamar bersalin. Orang-orang yang ikut mengantarkan turut bersorak. 2 menit berselang, dari ruang bersalin sebelah, satu lengkingan tangis bayi seakan memberikan komando untuk sorakan kedua.
***
“Dea, please, minta izinkan ke papa mamaku dong!” pinta Edo.
“Apa? Dea? Panggil aku Kakak,” jawab Dea ketus.
“Ih, 2 menit juga. Iya deh. Tapi bantu aku yah, Kak Dea,” pinta Edo sekali lagi.
“Okeh. Tapi ada syaratnya,” kata Dea kemudian sambil tersenyum penuh arti.
“Apa syaratnya Kak Dea?” senyum yang sudah mengembang tiba-tiba lenyap dari bibir Edo.
“Bilang ke mamamu bikin makanan yang banyak untuk dimakan ditempat camping.”
“Tapi ingat, sebagiannya punyaku,” lanjut Dea sambil memelototkan matanya.
“Siap Komandan,” ucap Edo sambil merapatkan kedua kakinya dan mengangkat tangan kanannya menghormat.
“Aku bukan komandan! Panggil aku Kak Dea,” teriakku sambil mengejar Edo yang berlari pulang.

Sebagai anak tunggal dan duluan lahir, aku selalu menganggap Edo sebagai adikku. Dia adalah partner in crimeku. Pasanganku dalam segala hal.

Betullah bahwa tidak ada perasaan persahabatan sejati antara perempuan dan laki-laki. Perasaan Edo telah berubah sejak kami SMP. Akhirnya, setelah tamat SMA persahabatan itu berubah menjadi hubungan cinta. Saat sisi kewanitaanku tersentuh dengan keseriusan Edo meyakinkan perasaannya padaku.
***
Seiring berlalunya waktu, aku memilih memutuskan hubungan dengan Edo. Hubungan kami terlalu membosankan. Sejak masih janin sampai kuliah hanya Edo dan Edo. Aku ingin lelaki lain. Edo yang selalu memahamiku menerima keputusan dengan hati yang sakit. Dia memilih cuti kuliah dan menerima tawaran magang di luar kota.

Sedangkan aku menerima cinta Raka. Teman kuliahku yang sejak mahasiswa baru sudah menyukaiku. Tapi rasanya tidak sama. Hari demi hari kekosongan itu menyisakan lubang menganga di hatiku. Sekalipun Raka laki-laki baik dan siap sedia disampingku, mengikuti setiap permintaanku yang kadang tidak masuk akal. Tapi hanya Edo yang teringat setiap Raka mewujudkan permintaanku. Yah aku menyesal, tapi meninggalkan Raka bukan keputusan bijak. Aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa lagi.
***
“Ka, kamu dimana?” tanya Dea menjawab telepon Raka.
“Dea, kenapa tidak jujur? Aku tahu hatimu bukan untuk aku,” kata Edo.
“Maksud Raka apa? Dea gak ngerti.”
“Coba Dea keluar dulu deh,” pinta Raka.

Dea berjalan meninggalkan ruang tunggu bioskop. Percakapan mereka belum terputus, namun tidak ada kata. Di pintu masuk Edo berdiri.
“Edo?”
“Yah, Edo, dialah lelaki yang mendapatkan hatimu yang utuh Dea, aku tahu itu,” ucap Raka sebelum menutup telepon.

Hari ini pun aku yakin, dia yang kutinggalkan, dia yang telah pergi dia akan kembali jika memang untukku. Seperti jari-jari kami yang terpaut dalam genggaman yang tidak akan kulepaskan lagi.

Sesosok pria tersenyum dalam duka menatap kami dari jauh. Dialah Raka. (Muj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar