Sabtu, 27 Desember 2014

Ais, Bukan Perampok



Dua jam sudah berlalu dari jam enam pagi. Tapi alam sekeliling masih sama. Gelap. Semburat jingga matahari pagi tidak nampak dari timur. Sekedar mengintip pun dia enggan. Kilatan petir sambar menyambar sedikit menerangi alam. Terlihat jelas dari jendela kamar. Gemuruh guntur menggelegar berselang detik dengan petir. Tak lama titik-titik air memburu dari langit. Angin kencang bertiup. Menghempaskan apa saja yang bisa dibantingnya. Termasuk jendela kamar yang tidak terkunci rapat.


Prak... Aku melonjak kaget.  

Cepat kukuasai diri dan berlari menguncinya lagi. Alam berkecamuk. Dan aku seorang sendiri menikmatinya. Ketakutan itu mulai menyergap. Pikiran-pikiran negatif pun menguasai. Bunyi-bunyian tak jelas tertangkap telingaku, entah apa dan dari mana asalnya. 

Aku kehilangan keberanian untuk sekedar mengintip ke lantai bawah mencari asal suara. Kunyalakan televisi dengan volume besar. Semoga suara-suara itu tertutupi, harapku. Namun sia-sia saja, ketakutakanku semakin menjadi. Suara TV yang menggema malah menimbulkan keresahan. Tiba-tiba TV mati. Listrik padam. Suara-suara itu kembali mengusikku.
 
Aku berlari ke kamar. Novel teenlit tergeletak di sudut meja kuraih dan mencoba menenggelakan diri dalam kisah-kisah di dalamnya. Halaman demi halaman mencipta lelah pada mata. Dan akhirnya kesadaran pun mulai menurun. Mata semakin meredup dan akhirnya terbuai dalam lelapnya tidur. Sampai akhirnya…

Buk... Buk... Buk... Pintu digedor.
"Woi buka pintu," teriak seseorang dari luar.
"Siapa?" teriakku dari lantai atas.
"Buka pintunya, kalau tidak aku dobrak heh!" nada yang makin meninggi.

Lututku bergetar, aku tak tahu harus berbuat apa. Pintu. Aku harus memastikan grendelnya terpasang. Aku berlari ke lantai bawah. Kupastikan pintu terkunci. 

Buk... Buk... Buk... Pintu digedor-gedor.

Langkah yang pelan kudekati jendela. Kusingkap sedikit kain gorden. Mata kami bersitatap. Mata merah penuh kemarahan. Melotot padaku dibalik jendela. Lelaki berpostur tinggi besar. Lengannya yang kekar bertato menghunus pedang berlumuran darah. Aku tersentak mundur beberapa langkah menjauhi jendela. 

Aku menghampiri telepon rumah di meja tengah. Tanganku gemetar. Air mata mulai berjatuhan. Belum lagi gagangnya kuraih, telpon itu berdering. Debaran jantungku semakin menderu dan membangunkan aku. 
  
Aku bermimpi. Ku seka keringat di keningku. Dengan punggung tangan kulap air mataku. Istigfar tak henti kulafalkan. Di luar, rintik hujan menimpa atap tidak terdengar lagi. Guntur dan kilat pun telah menghilang. Sinar matahari lolos dari jendel menerangi kamar.

Klik... Klik...  
Belum hilang ketakutanku, samar terdengar kunci pintu dibuka.
"Siapa?" teriakku.

Hening, tidak ada jawaban.
Tes... tes... Hanya tetesan air, rembesan air hujan dari atap berjatuhan di ember.
 
Ya Allah, lindungi hamba,doaku tak henti di dalam hati. Apa yang harus aku lakukan? Meminta tolong pun tak ada gunanya. Paling hanya pembantu-pembantu yang tersisa di kompleks ini
  
Kulayangkan pandang mencari alat pelindung. Gagang sapu kupegang erat, berharap otot-ototku kokoh memukuli semisal yang tadi membuka pintu adalah perampok. 



Dengan sigap kuturuni tangga, mataku nyalang ke arah pintu belakang yang menganga. Was-was komplotan perampok tiba-tiba muncul. Lampu kamar utama gelap, tapi suara berbisik jelas dari arah sana.
  
Langkah yang pasti dan mengendap, aku menuju sumber suara berbisik tadi. Sesekali kutengokkan kepala ke arah pintu belakang. Aku berhenti sejenak di samping pintu kamar. Kutarik napas dalam-dalam sebelum kuberanikan diri melongok ke dalam kamar.

Otot-ototku melemas. Serasa tanpa tulang penopang. Aku terduduk lemas didepan pintu kamar. Kulihat Ais, adikku, berbaring manis menonton TV.
  
“Yah, Ais,” kataku lemas. 
“Kenapa, Kak?” tanyanya tanpa merasa bersalah. 
“Masuk rumah itu ucapin salam, jangan lupa kunci pintu lagi,” ujarku kesal tapi lega.
“Hihihi... lupa kuncinya,” katanya dengan senyum dimanis-maniskan tanpa rasa bersalah. (Muj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar