Jumat, 13 Juni 2014

Melati Tidak Putih Lagi


         

Semua ini harus diakhiri. Tapi bagaimana? Beragam pikiran memenuhi benak Suci, berperang dengan tumpukan perih di hatinya. Air mata kejar-mengejar di pipi putihnya. Tanpa suara. Menangis dalam
diam.
Riuh binatang malam sahut menyahut. Dengkuran Ayah tirinya menambah ramai kelam malam. Saat satu demi satu langkah kaki menjejaki tangga rumah yang telah reyot. Wanita setengah baya itu baru kembali dari rumah majikannya.  
“Nak, kenapa belum tidur?” tanya ibu saat mendapati Suci, anak gadisnya, terduduk di sudut kamar. Remang bohlam 5 watt menyembunyikan linangan air matanya.
“Aku menunggu ibu,” jawabnya dengan nada suara yang dibuat-buat. menyembunyikan tangis dan amarah yang membara.
“Bu…”
“Kenapa, Nak?”
Suci tertunduk.
“Katakan saja, Nak!”
“Bu, Suci ingin kuliah.”
Tangan Ibu yang sibuk melipat pakaian tiba-tiba terhenti. Dipandanginya wajah anak gadis tamatan SMA di hadapannya dengan penuh iba.
“Suci tahu, ibu tidak bisa membiayai.”
“Suci hanya butuh izin ibu dan sedikit biaya untuk mendaftar diperguruan tinggi. Aku yang akan membiayai kuliahku, Bu.”
Aku harus pergi, Bu. Aku muak dengan lelakimu Ibu. Aku takut akan membunuhnya suatu saat. Tentu saja kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
“Jika itu keinginanmu, Nak, ibu hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu,” jawab ibu dengan air mata menganak sungai. Kenapa harus dari rahim wanita miskin ini kamu terlahir, Nak? Gumamnya dalam hati. Dipeluknya Suci sambil tersedu-sedu. Wanita dua generasi itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
***
Mela terkantuk-kantuk di kursi taman menunggu jadwal kuliah berikutnya. Rika, sahabat pertamanya sejak menjejakan kaki di kampus. Temannya berbagi duka dan suka, termasuk kelam hidupnya. Mungkin karena mereka senasib. Lahir dan besar dikeluarga melarat.
Namun Rika telah sangat berubah. Hidupnya dipenuhi barang mewah. Dan pindah ke kos dengan fasilitas lengkap.
 “Rik, cariin kerjaan dong ke relasimu,” gumam Mela.
Part time di minimarket hasilnya gak seberapa.”
Lesung pipi Rika menambah manis senyumnya. Diraihnya tangan Mela.
“Kulit mulus nan putih ini modal besarmu.”
Kali ini dagu Mela yang dipegangnya.
“Dagumu yang terbelah, bibir tipis, hidung mancung, mata bulat ini sia-sia kau miliki.”
Ditepisnya tangan Rika.
“Rik, aku tidak mau. Harus berapa kali aku bilang tidak.”
Mela berdiri. Belum lagi dia melangkah pergi, Rika mencegatnya.
“Kenapa kamu tidak mau Mel? Toh sudah berulang kali kamu memberikannya ke Ayah tirimu.”
“Ups,” Rika buru-buru menutup mulutnya.
“Ingat ibumu, Mel, hanya pekerjaan ini yang bisa menolongmu dan ibumu.”
“Nih, ntar malam datang ke kafe ini,” diselipkannya kartu nama disela buku yang didekap Mela.
***
Duduk manis di restaurant hotel bintang lima tidak pernah terpikirkan oleh Mela. Memakai baju rancangan desainer pun tak pernah diimpikan. Namun kini Mela menjelma menjadi seorang putri. Fasilitas mewah telah digenggaman. Tanpa takut kekurangan uang.
Mela melambaikan tangan. Seorang pria dari kejauhan tersenyum padanya. Kali ini pengusaha ekspor-impor takluk dalam genggamannya.
“Udah lama?” tanya lelaki itu.
“Baru juga 5 menit,” jawabnya sambil tersenyum.
“Mau makan dulu, atau…” sengaja digantungkannya kalimatnya sambil tersenyum menggoda. Senyum yang akan meluluhkan lelaki manapun.
“Kita makan saja dulu, aku langsung menuju kemari dari bandara.”
“Emang, isteri Bapak gak marah?”
“Hahaha… Istriku tidak butuh aku. Dia hanya butuh harta dan status.”
“Wah, sama dong dengan aku, tapi untuk status sih gak usah.” Mela menimpali sambil mengedipkan matanya.
“Bersamamu aku menjadi lelaki paling bahagia. Sayang, kamu tidak mau menjadi istriku.”
Jari telunjuk Mela mendarat manis di bibir lelaki itu.
“Huss, aku gak butuh itu, cukup seperti ini”.

Tawa dan kemesraan itu terus berlanjut sampai di kamar yang telah dibooking. Dan malampun akan berlalu. Segepok uang teronggok manis di sisi ranjang mengakhiri transaksi semalam.
***
"Suci kan?” tanya seorang gadis berjilbab rapi dihadapan Mela.
Hanya Ibu dan orang sekampungnya yang mengenal nama itu. Di sini, namanya adalah Mela.
Kepala didongakkannya mencari asal suara. Dahi Mela berkerut bersitatap gadis itu.
“Fatimah, ingat kan?” kata gadis itu menjawab raut menerka-nerka dari muka Mela
“Melati Suci Fitriah kan?” tanya gadis itu lagi.
Nama itu telah ditinggalkannya bertahun-tahun lalu. Tiba-tiba rasa aneh menjalari dadanya. Debaran jantung yang memburu. Pikirannya melayang pada wajah teduh Ayah kandungnya.
***
“Ayah kenapa nama ini diberikan padaku?” tanya Suci kecil pada Ayahnya yang tergolek lemas karena penyakit TB yang menggerogoti paru-paru.
"Karena Ayah ingin Suci menjadi perempuan cantik seperti melati yang putih dan harum, menyenangkan hati orang-orang,” jawab Ayah yang diikuti batuk kerasnya.
“Perempuan yang menjaga kesuciannya.”
“Perempuan tanpa dosa.”
***
 Suci menangis dipelukan Fatimah yang terbengong-bengong dengan tingkah sahabat kecilnya. Melati yang tidak putih lagi. Melati yang telah dinikmati bergiliran. Melati yang tidak lagi suci. Dan mungkin tidak akan kembali sebagai manusia dengan fitrah kesuciannya. Sekalipun Tuhan dengan keluasan ampunanNYA, namun dosa yang membayangi seakan lebih luas. (Muj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar