Selasa, 09 April 2013

Ranjang Horor


Samar...
Kepingan mimpi semalam mulai menyatu seperti kepingan puzzel yang membentuk gambar. Potongan kisah terputar kembali di memori menghasilkan cerita utuh. Saat dua sosok perempuan
seperti berebut untuk mendekatiku yang tidur antara sadar dan tidak. Entahlah perempuan itu manusia atau makhluk lain yang mencoba mengusikku.
Perempuan yang satu memakai hanbok dengan jeogori warna biru dan chima warna merah terang. Sosok yang satunya memakai pakaian panjang hitam dengan rambut panjang digerai, mukanya hitam dengan seringai menyeramkan.
***
Pukul 23.30 aku masih asyik dengan gadget, komentar status facebook teman, sesekali melanjutkan chating dengan teman kuliah S1 dulu dan bermain onet untuk mencari kantuk. Hwaaaa...beberapa kali aku menguap mengisyaratkan kantuk mulai merajai. 
            Namun belum juga gadget ku off kan, tema diskusi malam ini sangat mengasyikkan tentang benda-benda keramat koleksi teman, mulai dari badik, keris sampai samurai. Cerita yang berbau mistis. Tapi kali ini aku lebih banyak diam, jadi pendengar saja. 
            Teman-teman yang punya pengalaman bercerita bagaiman mendapatkannya. Susah diterima akal katanya, tapi inilah faktanya. Benda itu kadang muncul setalah dia sholat lail. Kadang pula didapatkan ditempat keramat yang sengaja didatangi. Pernah juga dikasi oleh seorang Datu dari salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Benda itu muncul tergantung kecocokan dengan calon pemiliknya, itu juga kata teman yang hobby dengan benda keramat. 
Benar-benar susah untuk dipercaya, tapi tidak ada alasan untuk tidak percaya karena teman ini adalah orang kepercayaan kami sewaktu kuliah dulu. Kepala suku, begitulah kami memanggilnya. 
            Kali ini kantuknya benar-benar tidak tertahankan, aku pun pamit meninggalkan grup, "saya sudah ngantuk, mau tidur di ranjang horror."
Tidak lama teman yang di Bogor mengirim pesan emoticon, kalau dibahasakan akan mewakili kata "capek deeeeh...". 
***
Hahahahahaha...'ranjang horor'. Cerita selingan yang ku cipta kemarin malam disela cerita yang seru di grup.
"Ada cerita hororku," kataku sambil memposting gambar ranjangku dengan seprei birunya.
"Ini ranjangku toh, tidak tahu kenapa setiap tidur disitu, gelisah sekalika. Butuh 2-3 jam baru bisa ta' tutu' mataku. Sekalinya tidurma selaluka bangun tengah malam. Dan setelahnya tidak nyenyakmi tidurku samapai pagi."
Kemudian ditanggapi seorang teman, "kenapa bisa?"
"Tidak kutaui, tapi toh kalo pindahka di sofa langsung nyenyak tidurku, sekalipun sakit badan kalo bangun karena melengkung ini sofa," jawabaku.
Untuk lebih meyakinkan kehororan ranjang ini, aku pun menambahkan "pernahka kayak ketindisan antara sadar dan tidak, tidak bisaka bangun padahal bacama ayat kursi dan tiga Qul."
Teman-teman mulai berargumen dengan sarannya masing-masing.
"Taro'ki hapemu diranjang baru putarkan mengaji."
"Coba diganti posisi ranjangnya."
"Bacako ayat kursi sebelum tidur."
"Kena deh semua. Hahahahaha...tau tidak kenapa tidak bisaka nyenyak disini ranjang? Karena kasur spring bed dan jarang ditempati tidur makanya kasurnya keraaaas," jawabku di kolom chating grup.
Semuanya bersorak, "huuuuuu..."
Seandainya di dunia nyata habislah saya digebuki, untung semua hanya ada di dunia we chat grup Bio C'04. Berbagai emoticon jengkel menghiasi screen tabletku. Ngakak se ngakak ngakaknya, begitulah hariku berakhir kemarin malam.
Sebenarnya inilah fakta tentang tempat tidur ini tapi karena takut ketakutan sendiri dan dihantui bayang-bayang yang mungkin tidak ada, aku akhirnya berfikir keras bagaimana agar endingnya berakhir tanpa rasa takut.
***
Perempuan berhanbok duduk di kursi orange ku di sudut kamar. Tatapannya yang tajam mengamatiku tertidur dan sesekali menatap tajam perempuan jubah hitam berdiri di sudut ranjang. Perempuan berjubah hitam mendekatiku perlahan dan kemudian terhenti oleh gerakanku membalikkan badan dan memasang selimut.
Tiba-tiba perempuan berhanbok menghampirinya dan mulai beradu mulut,beradu kata siapa yang lebih berhak terhadapku. Sampai sekarang aku tidak mengerti apa maksud mereka tentang 'berhak terhadapku'.
Setelah pertikaian sengit itu akhirnya perempuan berjubah mengalah dan duduk di kursi orange. Perempuan berhanbok pun bertingkah seperti perempuan berjubah tadi. Dengan tangan putih pucatnya dan kuku berkuteks merah darah dia coba menggapaiku, dengan perlahan dia mencoba menyentuh tubuhku. Aku merinding dan akhirnya terbangun dengan napas tersengal.
Masih pukul 01.00, sama dengan ceritaku kemarin malam, setiap tidur di ranjang ini aku akan tebangun tengah malam dan susah untuk nyenyak kembali.
Kuarahkan pandangan ke sudut kamar tempat kursi orange bertahta, tidak ada siapapun disana. Hanya handuk putih yang bertengger manis. Setelah bisa menguasai diri aku kembali tertidur.
Kini perempuan berjubah itu yang kembali mendatangiku, dia terduduk di sudut ranjang dan mulai meraihku dengan kuku panjangnya yang hitam. Dia kembali tersentak kaget karena gerakan tiba-tibaku membalikkan badan. Dengan penuh kekecewaan dan lenguhan dia pergi ke kursi orange dan bergantian dengan perempuan berhanbok.
Dengan tergesa perempuan berhanbok itu mencoba berbaring disisiku, tapi sebelum berhasil dengan aksinya aku terbangun oleh deringan hape. Adikku baru datang dari kampung menelpon minta dibukakan pintu. Deringan hape dengan volume maksimal turut membangunkan adikku satunya lagi yang tidur sekamar denganku
"We bene aja ganjang tindoku, ja mekalajatan, " kataku.
Dia pun menimpali, "Ie kakak Da, capade' todana, edda na manyaman mamma'ku ja gaja perasaangku."
Mungkinkah dua perempuan itu memang ada semalam, kehadirannya yang membuat anak ini pun tidak bisa lelap. Sedangkan aku seperti menangkap bayangan hitam ketika tersadar dari tidurku setiap kedua perempuan itu hampir menyentuhku. Berkali-kali aku terbangun dan itu terjadi ketika kedua perempuan itu akan meraihku. Aku berpikir apakah yang akan terjadi denganku seandainya salah satu perempuan itu berhasil menyentuhku?
Di sisi tempat tidur aku mulai mengira-ngira kenapa harus dua perempuan itu? Ingatanku tersangkut pada drama Korea yang aku nonton semalam. Perempuan berhanbok itu mungkin perempuan gumiho di drama Grudge: Revolt of Gumiho. Sedangkan perempuan berjubah hitam itu siapa?
Semalam ketua suku mengirimkan foto dirinya sambil memegang badik.
"Mengerikannya fotonya," kataku menanggapi foto itu karena bagiku memang sangat menyeramkan.
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat perempuan poppo, perempuan yang diceritakan Dul Abdul Rahman dalam novelnya PEREMPUAN POPPO. Itukah dia? Perempuan berjubah hitam semalam?

Catatan :
Hanbok : pakaian tradisonal Korea
Jeogori : baju
Chima : rok
We bene aja ganjang tindoku, ja mekalajatan : Mimpiku jelek sekali, sangat menakutkan
Capade' todana, edda na manyaman mamma'ku ja gaja perasaangku : Saya juga tidak tahu kenapa, tidurku tidak nyaman, perasaanku tidak enak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar